“Biasanya tinggi to pak tekanan darahnya?”, tanya saya.
“Gak tu dok”, jawab pasien. “Tapi memang dua hari terakhir ini saya minum kopi terus”.
Saya lalu minta perawat untuk memasang tampon. Perawat bilang bahwa adrenalin di UGD habis. Saya lalu menelfon apotek apakah masih ada stok adrenalin.
“Adrenalinnya gak ada dok, adanya epinefrin”, kata petugas apotek.
“Sama saja itu, nanti kasih itu saja kalau ada resep adrenalin”, kata saya.
Keluarga pasien pun mengambil adrenalin dari apotek. Setelah itu saya minta perawat untuk mengencerkannya dengan perbandingan 1/10. Kasa yang telah direndam kemudian dimasukkan ke dalam hidung. Setelah tampon terpasang saya minta pasien untuk tetap dalam posisi duduk.
“Kalau bisa bapak jangan panik, supaya darahnya tidak mengucur semakin deras”, kata saya.
“Sebenarnya saya tidak panik dok, yang panik itu malah istri saya ini”, jawab pasien.
Lima belas menit kemudian tekanan darah pasien menjadi 200. Setelah perdarahannya agak berkurang pasien saya kirim ke bangsal. Saya resepkan cefotaksim 1 gram/12 jam, asam traneksamat/8 jam dan captopril 25 mg/8 jam untuk dimasukkan di bangsal nanti.
***
Guru saya pernah bilang bahwa pasien tersebut termasuk pasien yang beruntung. Disebut beruntung karena perdarahan terjadi di hidung, dan bukannya di otak. Penghentian perdarahan pun harus hati-hati dengan tetap memonitor tekanan darah. Jangan sampai perdarahan di hidung berhenti tapi timbul perdarahan di otak. Dan yang perlu diperhatikan di sini adalah pemberian tampon adrenalin pada kasus mimisan oleh karena hipertensi. Pemberian adrenalin harus diiringi dengan pemberian obat penurun tekanan darah dan tidak boleh diberikan lagi bila terdapat peningkatan tekanan darah.
Metode ini didasarkan kenyataan bahwa sumber perdarahan biasanya berasal dari pleksus Kiesselbach yang ada di bagian depan hidung. Tapi bila dengan metode tersebut mimisan tidak berhenti maka sebaiknya dibawa ke dokter.
Tindakan dokter bisa berupa tampon anterior atau pun tampon posterior (Bellocq). Tampon anterior berupa kapas atau kasa menyerupai pita dengan lebar kira-kira 0,5 cm yang diberi vaselin atau salep antibiotik agar tidak melekat sehingga tidak terjadi perdarahan ulang saat pencabutan. Tampon anterior dimasukkan melalui lubang hidung, diletakkan berlapis mulai dari dasar sampai puncak rongga hidung dan harus menekan tempat asal perdarahan. Tampon dipertahankan 1-2 hari. Bila hendak menggunakan adrenalin maka yan g dipakai adalah larutan adrenalin 1/10.000. Larutan ini bisa didapatkan dengan mengencerkan adrenalin 1/1000 dengan perbandingan 1/10.
Untuk memasang tampon Bellocq, kateter karet dimasukkan melalui salah satu lubang hidung sampai tampak di orofaring dan ditarik keluar melalui mulut. Ujung kateter diikat pada salah satu benang yang ada pada salah satu ujung tampon kemudian kateter ditarik melalui hidung sampai benang keluar dari lubang hidung. Dengan cara yang sama benang yang lain dikeluarkan melalui lubang hidung sebelahnya. Benang yang keluar kemudian ditarik dan dengan bantuan jari telunjuk tampon tersebut didorong ke arah nasofaring. Agar tidak bergerak, kedua benang yang keluar dari lubang hidung diikat pada sebuah gulungan kasa di depan lubang hidung. Ujung benang yang keluar dari mulut, dilekatkan pada pipi. Benang tersebut berguna bila hendak mengeluarkan tampon.
Pasien lalu diminta duduk tegak (agar tekanan vaskuler berkurang dan mudah membatukkan darah di faring). Bila dalam keadaan lemah atau syok, pasien dibaringkan dengan bantal di belakang punggung.
Setelah menangani perdarahan biasanya dokter akan mencari penyebab dari mimisan itu. Penyebab lokal bisa karena trauma, infeksi maupun tumor pada hidung, Sedangkan penyebab sistemik bisa karena hipertensi, trombositopenia, hemofilia, maupun demam berdarah. Pemeriksaan darah rutin diperlukan terutama untuk mengetahui kadar hemoglobin dan trombosit dalam darah.


